Public Relations 6.0: Hati, Reputasi, Pandemi

Public Relations 6.0: Hati, Reputasi, Pandemi

Reputasi organisasi/korporasi tidak sekadar diukur dari pencapaian profit yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Justru di masa pandemi, reputasi harus ditunjukkan lebih kepada keberpihakan dan kepedulian organisasi/korporasi untuk membantu menyelamatkan manusia dari ancaman pandemi. Empati lebih dikedepankan, ketimbang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari publik dan konsumen.

 

Semua itu bermula dari hati. Berkomunikasi kepada publik/konsumen melalui pendekatan hati, akan membuat efektivitas komunikasi di masa sulit, seperti saat pandemi, menjadi jauh lebih kuat tercipta. Ada begitu banyak tantangan berkomunikasi di masa pandemi. Seperti adanya sebagian masyarakat yang masih belum mempercayai jika pandemi COVID-19 adalah nyata. Begitu pula dengan vaksinasi COVID-19, tak semua warga di negeri ini menginginkannya.

 

Berkomunikasi memang tidak bisa sekadar mengirim satu pesan tunggal kepada audiens yang beragam secara latar belakang sosial, perilaku, kultur, hingga kepercayaan. Fragmentasi audiens membutuhkan sentuhan yang beragam, dari produksi konten hingga pendekatan yang –sekali lagi—membutuhkan hati agar lebih hakiki.

 

Inilah era Public Relations (PR) 6.0. Sebuah era yang membuat pendekatan PR dan komunikasi tidak lagi semata menggunakan infrastruktur dan platform fisik, melainkan sudah semestinya menyertakan “indera” (sense) keenam bernama hati. Platform, apapun itu, tetaplah sebuah produk teknologi. Ia tidak punya rasa. Ketika konten dialirkan melalui platform, maka pilihannya kepada si pengirim pesan: akan memanfaatkan hati atau asal memposting pesan?

 

Sudah terlalu banyak pernyataan para pejabat publik –terutama di masa pandemi—di berbagai belahan dunia, yang mengalami blunder. Itu karena kering sensitivitas kepada publik yang ingin disapa. Fenomena itu menunjukkan bahwa komunikasi dan praktik PR masih yang banyak tidak empatik pada situasi dan kondisi kontemporer.

 

Komunikasi empatik dengan demikian adalah komunikasi yang solutif. Memberdayakan sekaligus memberikan jalan keluar dari persoalan-persoalan hubungan antarmanusia yang dikemas dengan aktivitas komunikasi.

 

Judul buku ini yang menggunakan istilah PR 6.0, bukan menunjuk pada istilah keberlanjutan revolusi teknologi, melainkan bermakna pada penggunaan “Six Sense” dalam praktik komunikasi. Hati, atau berkomunikasi dengan hati yang melahirkan sikap empati, adalah six sense bagi public relations.

 

Saatnya praktik PR harus semakin memerhatikan sensitivitas dalam berkomunikasi. Pandemi, bukan sebuah “program” untuk sekadar membantu mereka yang terdampak dan menderita. Pandemi, mesti dilihat sebagai sebuah ujian kemanusiaan yang sungguh dahsyat. Memerlukan begitu banyak energi, waktu, dan biaya menanganinya. Bahkan, yang lebih menyedihkan, mengorbankan tidak sedikit jiwa manusia di dalamnya.

 

Berkomunikasi di masa pandemi, sungguh-sungguh menjadi tidak biasa. Perlu kehati-hatian yang sangat tinggi, agar jauh lebih empatik dan menentramkan, di tengah kegelisahan, kegundahan, dan bayang ketidakpastian ekonomi, sosial, maupun kesehatan dalam jangka cukup panjang.

 

Itulah sebabnya, upaya membangun reputasi memerlukan penempatan konteks yang tepat. Produk/merek/jasa mendefiniskan ulang cara mereka hadir di masa pandemi, tidak seperti lazimnya di kala situasi normal.

 

Buku ini berasal dari pengembangan program talkshow digital MAW Talk melalui zoom bersama 19 narasumber sejak 12 Juni 2020, dengan mengulas empat topik utama, yakni “Hati, Strategi, dan Kompetensi”. Kemudian tema “Media Relations dan Content Creation”. Lalu tema “Isu, Persepsi, dan Reputasi”. Dan terakhir tema “PR, Adaptasi, dan Pandemi”.

 

Buku ini, Saya harapkan dapat memberikan inspirasi yang cukup komprehensif kepada kita semua, terutama praktisi PR/Humas di seluruh Indonesia, bahwa berkomunikasi untuk menciptakan reputasi di era pandemi, memerlukan usaha ekstra yang luar biasa. Karena kerja-kerja PR dibayangi oleh limitasi anggaran yang sangat minim, tapi dituntut hasil (reputasi) yang tidak kalah jauh ketimbang sebelum pandemi. Kabar baiknya, teknologi digital begitu membantu kerja-kerja PR sehingga limitasi biaya bisa dikonversi melalui pendekatan kreativitas digital yang inovatif. ***