Energi Kebaikan & Komunikasi Empatik

Energi Kebaikan & Komunikasi Empatik

Di tengah begitu banyak tantangan, krisis, hingga pandemi yang melanda seluruh dunia, kebaikan dan perbuatan baik, sungguh bagaikan oase yang menyegarkan hati. Begitu pula dengan berkomunikasi. Berkomunikasi secara baik, bakal mengundang simpati dari komunikan, dari target audience yang disasar. Sehingga umpan balik yang juga mengandung unsur kebaikan, yakni perubahan perilaku niscaya akan diperoleh.

 

Tujuan mencapai (kebaikan) perubahan perilaku itu efektif manakala bentuk-bentuk komunikasi yang dijalankan organisasi/korporasi bersifat empatik. Tidak arogan. Karenanya komunikasi empatik bakal mendorong tindakan-tindakan kebaikan, yang pada akhirnya menjadi energi besar untuk menggerakkan ekosistem masyarakat menjadi berkembang dan semakin sejahtera. Isu besar tentang pentingnya energi kebaikan sebagai aset dalam berkomunikasi yang empatik, merupakan benang merah dari isi buku berjudul “Energi Kebaikan & Komunikasi Empatik”.


Secara keseluruhan, isi buku terdiri dari tiga bagian besar (bab). Bab I berjudul “Kepemimpinan dan Kebaikan”, berisikan delapan tulisan pendek terkait isu-isu kepemimpinan. Bab II berjudul “Public Relations Mengelola Komunikasi”, menghimpun 14 topik artikel pendek seputar public relations dan media. Sedangkan Bab III berjudul “Menebar Kebaikan, Berkomunikasi Empatik”, ditopang oleh 10 artikel hasil perbincangan penulis dengan narasumber program MAW Talk pada kisaran bulan Februari hingga April 2021. Isu di bagian ini terentang dari audience engagement dan komunikasi kolaboratif, kreativitas komunikasi di tengah biaya yang cekak, kultur digital public relations (PR), komunikasi kebijakan, komunikasi CSR, hingga berkomunikasi yang empatik.