Pemimpin adalah Pembelajar Ulung

Pemimpin adalah Pembelajar Ulung

“Pemimpin itu harus mau dan terus belajar. Agar ia selalu relevan di mata publik di segala lintasan zaman.”


Zaman yang berubah, melahirkan generasi yang berbeda. Memahami kehadiran generasi baru, adalah bagian dari proses belajar pemimpin. Tak semua pemimpin berhasil memahami generasi baru ini, namun tak sedikit yang berhasil. Yang penting, adalah kemauan pemimpin untuk belajar selalu menyala kapanpun itu dibutuhkan. Pemimpin yang enggan belajar, maka ia akan tertatih-tatih membaca kehendak orang- orang yang dipimpinnya.

 

Kemauan belajar itu sederhana. Termasuk ketika sang pemimpin melakukan kesalahan dalam mengambil kebijakan, lalu sesegera mungkin mengakui dan memperbaiki, maka itulah bagian dari proses belajar yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Proses belajar akan berlangsung terus-menerus bagi sang pemimpin selama masa kepemimpinannya.


Kata dan tindakan pemimpin tidak selalu benar. Pemimpin bisa salah, karena ia manusia. Yang penting, pemimpin paham apa kesalahannya dan mengelola upaya perbaikan itu dengan sekuat tenaga. Termasuk memastikan bahwa kesalahan yang terjadi, bukan upaya untuk mengambil keuntungan pribadi dan menafikan kepentingan publik.

 

Jika sebaliknya, maka hujan bully dan maki akan begitu mudah meluncur kepada sang pemimpin. Mungkin, bukan saja dari sebagian publik yang dirugikan akibat cara kepemimpinannya. Namun datang dari para netizen yang dengan mudahnya merespons dengan komentar dan celoteh mereka di media sosial.

 

Akibatnya, semakin sulit bagi sang pemimpin untuk memperbaiki kekeliruan sikapnya. Kendati demikian, tetap masih ada ruang perbaikan diri, dengan selalu menunjukkan kinerja-kinerja positif, melakukan kebaikan-kebaikan kepada publik dengan tulus dan ikhlas. ***


*). Diambil dari naskah buku "Energi Kebaikan & Komunikasi Empatik", karya Mas Asmono Wikan, Agustus 2021.