Lima Pakem Dasar Bagi Praktisi PR

Lima Pakem Dasar Bagi Praktisi PR

“Paduan hati dan teknologi, membuat pesan-pesan komunikasi hadir lebih presisi.”

 

Ada banyak pakem dan metode dasar dalam menjalankan aktivitas komunikasi bagi para praktisi public relations (PR). Setidaknya, lima diantaranya menurut Saya begitu penting untuk dipedomani.


1. Katakan Sejujurnya. Jangan Berbohong!

Katakan yang benar, namun tidak semua yang benar harus dikatakan. Jika ketahuan bohong, korporasi/organisasi akan kehilangan public trust. Sekali public trust hilang, sulitnya bukan main bagi tim PR untuk meraihnya kembali. Jika pun dapat, akan memakan waktu dan energi yang tidak sedikit. Yang penting, sampaikan fakta yang benar tentang diri korporasi atau organisasi.

 

Menyampaikan kebenaran tentang diri kita/organisasi/korporasi, akan membuat proses komunikasi lebih mudah berjalan. Di masa krisis, kadang menyampaikan kebenaran saja belum cukup. Apalagi ketika mengatakan hal bohong kepada publik. Rusak sudah reputasi organisasi/korporasi kita. Oleh karenanya, pastikan Anda tidak menyampaikan informasi bohong kepada publik.


2. Sampaikan Fakta yang Akurat. Jangan Menebar Hoaks!

Menyebar fake news dan hoax adalah tindakan melanggar etika public relations (PR). Bahkan bisa dipidana. Informasi apapun yang disampaikan oleh PR haruslah mengandung fakta yang kredibel. Hoax, umumnya terjadi karena ada kesenjangan (gap) antara informasi yang disampaikan organisasi/korporasi dengan persepsi yang dibangun oleh publik tentang diri kita/organisasi/korporasi.

 

Ketika menyampaikan informasi kepada publik, PR harus mampu memastikan tidak ada celah sedikit pun yang berpotensi memicu hoax. Caranya? Pastikan terlebih dahulu informasi yang hendak disampaikan ke publik itu akurat, terverifikasi, dan kredibel.


3. Berkomunikasi yang Humanis. Jangan Arogan!

Seorang PR yang membangun hubungan dengan sikap rendah hati akan menciptakan mutual relationship yang humanis. Karenanya, jangan pernah bersikap arogan dalam berkomunikasi dengan siapapun. Sudah bukan zamannya lagi berkomunikasi mengandalkan “otot”, menebar ancaman, dan hujan makian. Sebaliknya, bangunlah pola komunikasi dan pesan yang sejuk, mengena ke hati, dan membuat kesan baik di mata publik. Alhasil, publik akan lebih mudah menerima apa yang menjadi harapan dari organisasi/korporasi.


4. Dengarkan Audience. Jangan Abaikan Opini Publik!

Apa yang dikatakan audience akan menjadi persepsi bagi organisasi/korporasi. Dengar, olah, dan jadikan opini publik sebagai kekuatan dalam berkomunikasi. Mendengarkan adalah sebuah kemampuan berkomunikasi yang sangat penting. Tanpa mau mendengar dengan baik, komunikasi yang akan dibangun bisa keliru. Baik keliru pesan, bahkan target sasaran. Lebih celaka lagi, kekeliruan menafsir opini publik, hanya akan menyeret organisasi/korporasi ke jurang krisis.


5. Gunakan Hati Saat Berkomunikasi. Jangan Hanya Andalkan Teknologi!

PR harus melibatkan hati di dalamnya agar efektivitas berkomunikasi lebih optimal. Bukan hanya semata mengandalkan teknologi. Teknologi bisa berganti dengan yang lebih baru dan terkini. Namun, hati tetap harus dilibatkan agar proses penyampaikan pesan dengan teknologi terkini lebih mudah diterima dan memantikkan simpati dari publik kepada kita. ***


*). Dinukil dari naskah yang telah diterbitkan pada buku "Energi Kebaikan & Komunikasi Empatik", karya Mas Asmono Wikan, Agustus 2021.